
Oleh: Zulkarnain Umar
“Orang atau organisasi yang baik, divonis sebagai penjahat. Orang dan organisasi jahat dikira baik. Pembangun dianggap perusak. Perusak dikira pembangun”.
——————————————
Post truth era. Kita disuguhi ratusan informasi setiap hari. Baik informasi positif, maupun negatif. Baik yang sederhana, sekedar pemberitahuan, kabar berita, gambar, atau tulisan seseorang. Berkembang pula podcast, yutub dan media sosial lain, yang siapapun bisa membuatnya. Lalu penyebaran informasi pun begitu cepat. Secepat gerakan jari tangan. Sesuatu yang belum terjadi di zaman Rasulullah, sahabat, tabiin, dan seterusnya.
Allah Ta’ala mengajarkan kita bagaimana mengelola informasi. Cara ampuh untuk menghindari fitnah, dosa, serta terhapusnya pahala, bahkan rusaknya tatanan sosial kemasyarakatan. Itulah tabayyun.
Cukup keras peringatannya! Lihatlah. Ayat tabayyun dekat dengan ayat larangan mengolok-olok suatu kaum, tajassus, yang diibarat dengan memakan bangkai daging saudaranya. (Lihat surah alHujurat ayat 6-12).
والمراد من التبين التعرف والتفحص ومن التثبت الإفادة وعدم العجلة
Tabayun adalah “tafahus” memeriksa dan ‘tatsabut’ berarti tidak tergesa-gesa. (Muhammad Siddiq Khan, Fath al Bayan fi Maqashid Al Qur’an).
Bayangkan, zaman Rasulullah yang masih sangat terbatas saja Allah sudah mengingatkan tentang tabayyun, apalagi di zaman media sosial yang begitu canggih. Ditambah lagi potensi kemungkinan besar munculnya firehose of falsehood (semburan dusta); dusta massif dan beruntun. Mengerikan.
Sahabat,
Patut kita mengevaluasi diri. Baik mendengar, membaca, menyebar, atau menindaklanjuti suatu berita. Telitilah, dan jangan tergesa-gesa menindaklanjuti, apalagi menyebarkannya.
Ulama menjelaskan bukan hanya berita dari orang fasiq, tapi dari siapapun, hendaknya kita teliti kebenarannya, agar kita tidak termasuk orang yang menyebarkan berita palsu atau dusta.
FRAMING
Salah satu sifat politik jurnalistik yang belakang marak muncul karena berbagai kepentingan adalah framing. Framing adalah mengemas informasi/peristiwa dengan misi menggiring opini/persepsi pembaca. Framing kepanjangan dari agenda setting. Ia membingkai informasi agar melahirkan citra dan kesan pembaca, menyeleksi dan memilih kata, hingga menyembunyikan kata yg lain. Framing terkadang bukan berbohong, tapi ia membelokkan kata dengan halus.
Orang atau organisasi yang baik, divonis sebagai penjahat. Orang dan organisasi jahat dikira baik. Pembangun dianggap perusak. Perusak dikira pembangun.
Dengan maraknya pola framing dalam berbagai peristiwa, seharusnya kita semakin meningkatkan tabayyun, hingga pribadi muslim adalah sumber berita yg handal dan terpercaya.
Bersabarlah sebelum menshare berita, agar kita tidak terbawa framing orang lain. Ketiadaan tabayyun, terbawa framing, ini yang menyebabkan lupa terhadap fokus dan cita-cita besar kita.
Wallaahu a’lam.



